• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Alat berat pembuatan jalan raya
#1
Cara menghitung agar penggunaan dari alat berat tersebut bisa hemat dan sukses.
Latar Belakang
pekerjaan proyek konstruksi sudah menjadi hal yang wajar ditemui dalam kehidupan sehari-hari. proyek konstruksi adalah rangkaian kegiatan yang terencana untuk mencapai suatu tujuan tertentu dimana dalam mencapai tujuan tersebut dibatasi oleh waktu, biaya, dan mutu. jalan menjadi suatu obyek yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan adanya jalan yang baik maka akan menunjang berbagai sektor kehidupan misalnya sektor perekonomian di suatu daerah. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air. dahulu pembuatan jalan menggunakan tenaga manual dalam hal ini manusia. Semua pekerjaan konstruksi dalam pembuatan jalan dilakukan oleh manusia. Namun seiring berjalannya waktu, manusia telah menemukan suatu alat yang digunakan untuk mempermudah pekerjaannya.
[Image: 1522902498_OE4QNL49eYdjQ0b.jpg]
Alat sendiri terdiri dari berbagai macam jenis, ada yang besar ada yang kecil. Alat-alat yang berukuran besar inilah yang kerap kali kita temukan dalam pelaksanaan pembuatan jalan. Orang yang berkutat dengan dunia konstruksi menyebutnya dengan istilah alat berat. Hampir semua proyek skala besar pasti membutuhkan alat berat. Dalam hal ini, pembuatan jalan raya juga termasuk pekerjaan proyek skala besar. Oleh karena itu, penggunaan alat berat dalam pekerjaan proyek sudah tidak asing lagi. Dalam makalah ini penulis akan menguraikan tentang penggunaan alat berat dalam pelaksanaan pembuatan jalan raya dan cara menghitung agar penggunaan dari alat berat tersebut bisa hemat dan sukses.
Rumusan Masalah
Berdasatkan latar belakang masalah tersebut maka rumusan masalahnya adalah berikut ini :
Bagaimana cara hitung harga sewa dari alat berat yang akan digunakan ?
Bagaimana cara menghitung kebutuhan alat untuk pengerjan jalan?
Bagaimana cara menghitung kebutuhan alat untuk pengerjan drainase?
tujuan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang ingin diperoleh penulis adalah:
mengetahui cara hitung harga sewa dari alat berat yang akan digunakan ?
mengetahui cara menghitung kebutuhan alat untuk pengerjan jalan?
mengetahui cara menghitung kebutuhan alat untuk pengerjan drainase?
manfaat
Berdasarkan tujuan yang diuraikan di atas maka, manfaat yang dapat diambil adalah
Bagi Penulis
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis mengenai pelaksanaan pembuatan jalan raya dan drainase menggunakan alat berat.
Bagi Lembaga
Untuk mendapatkan teori mengenai pelaksanaan pembuatan jalan raya dan drainase menggunakan alat berat.

2.1 pengenalan alat berat
Alat Berat atau Heavy Equipment, adalah alat bantu yang di gunakan oleh manusia    untuk mengerjakan pekerjaan yang berat / susah untuk di kerjakan dengan tenaga manusia / membantu manusia dalam mengerjakan pekerjaan yang berat. misal untuk membuat sebuah danau, manusia menggunakan alat berat untuk mengerjakannya.
Penggunaan alat-alat berat yang kurang tepat dengan kondisi dan situasi lapangan pekerjaan akan berpengaruh berupa kerugian antara lain rendahnya produksi, tidak tercapainya jadwal/target yang telah ditentukan, atau kerugian biaya repair yang tidak semestinya.
Oleh karena itu sebelum menentukan type dan jumlah peralatan dan attachmetnya, sebaiknya kita fahami lebih dahulu fungsi dan aplikasinya.
Selain Faktor ini biasanya pihak executive di sebuah perusahaan alat berat, sangat memikirkan mengenai spare part dan kecepatan dalam perbaikan unit untuk mereduce down time unit saat sedang rusak. namun hal - hal seperti ini biasanya di pikirkan sejak awal oleh si pembeli dan si penyuply saat investasi unit di awal.
Macam-macam Alat berat dan Fungsinya :
Eksistensi alat berat dalam proyek-proyek dewasa ini baik proyek konstruksi maupun proyek manufaktur sangatlah penting guna menunjang Pemerintah baik dalam pembangunan infastruktur maupun dalam eksplore hasil-hasil tambang, misalnya semen dan batubara. Keuntungan-keuntungan dengan menggunakan alat-alat berat antara lain waktu yang sangat cepat, tenaga yang besar dan nilai-nilai ekonomis. Penggunaan alat berat yang kurang tepat dengan kondisi dan situasi lapangan pekerjaan akan berpengaruh berupa kerugian antara lain rendahnya produksi, tidak tercapainya jadwal atau target yang telah ditentukan atau kerugian biaya perbaikan yang tidak semestinya. Oleh karena itu, sebelum menentukan tipe dan jumlah peralatan dan attachmentnya sebaiknya dipahami terlebih dahulu fungsi dan aplikasinya.
Berikut macam-macam alat berat beserta fungsinya, agar dapat di pahami dalam penggunaannya.
Pengertian Alat-alat berat
Alat-alat berat merupakan alat yang digunakan  untuk  membantu manusia dalam melakukan pekerjaan    pembangunan   suatu  struktur  bangunan. Alat berat merupakan faktor  penting  didalam  proyek,  terutama  proyek proyek  konstruksi maupun  pertambangan  dan  kegiatan  lainnya dengan skala yang besar  Tujuan dari penggunaan alat – alat  berat tersebut adalah untuk memudahkan manusia dalam  mengerjakan pekerjaannya, sehingga hasil  yang  diharapkan dapat tercapai dengan lebih mudah dengan waktu yang relatif lebih singkat.
a.       Alat Pengolah Lahan
Kondisi lahan proyek  kadang-kadang  masih  merupakan  lahan asli yang harus dipersiapkan sebelum lahan tersebut  mulai  diolah. Jika pada lahan masih terdapat  semak  atau  pepohonan  maka  pembukaan   lahan   dapat    dilakukan  dengan   menggunakan  dozer.  Untuk   pengangkatan  lapisan   tanah     paling    atas    dapat    digunakan    scraper.   Sedangkan    untuk  pembentukan  permukaan  supaya rata selain dozer dapat digunakan juga motor grader.
      Bulldozer   dapat  dibedakan  menjadi   dua  yakni  menggunakan  roda kelabang (Crawler Tractor Dozer) dan Buldoser yang menggunakan roda karet (Wheel Tractor Dozer). Pada dasarnya Buldoser  menggunakan traktor sebagai tempat  dudukan  penggerak utama, tetapi lazimnya traktor tersebut   dilengkapi   dengan   sudut   sehingga   dapat  berfungsi  sebagai   Buldozer   yang  bisa  untuk menggusur tanah.
         Buldoser   digunakan  sebagai   alat   pendorong   tanah   lurus ke dapan maupun ke samping, tergantung ada  sumbu  kendaraannya.  Untuk   pekerjaan di rawa digunakan jenis Buldoser khusus  yang  disebut  Swamp Bulldozer.
b. Alat Penggali
Jenis   alat    ini   dikenal    jga   dengan   istilah  excavator. Beberapa  alat   berat   digunakan   untuk   menggali  tanah   dan  batuan.  Yang   termasuk didalam kategori ini adalah front shovel, backhoe, dragline, dan clamshell.
c.       Alat Pengangkut Material
Crane  termasuk  di  dalam  kategori  alat   pengangkut   material,   karena  alat   ini   dapat    mengangkut    material   secara    vertical  dan kemudian   memindahkannya   secara   horizontal   pada   jara   jangkau   yang  relatif kecil. Untuk pengangkutan  material  lepas  (loose material)  dengan  jarak  tempuh  yang  relatif   jauh, alat  yang digunakan  dapat  berupa belt, truck dan wagon.
Alat-alat ini  memerlukan  alat  lain  yang  membantu memuat  material  ke dalamnya.
d.        Alat Pemindahan Material
Yang   termasuk    dalam   kategori   ini   adalah   alat  yang biasanya tidak  digunakan  sebagai  alat transportasi tetapi digunakan untuk memindahkan material  dari   satu   alat  ke  alat  yang  lain.  Loader   dan   dozer   adalah  alat pemindahan material.
e. Alat Pemadat
Pemadatan   tanah   secara  mekanis    umumnya   dilakukan    dengan   menggunakan mesin penggilas (Roller); klasifikasi Roller yang dikenal antara lain adalah
 1). Berdasarkan   cara  geraknya ;  ada  yang bergerak sendiri, tapi ada
juga yang di tarik dengan traktor.
 2). Berdasarkan  bahan  roda  penggilasnya, ada yang terbuat dari baja
(SteelWheel) dan ada yang terbuat dari karet (pneumatic).
3). Dilihat  dari  bentuk  permukaan  roda; ada yang punya permukaan  halus (plain), bersegmen, berbentuk grid, berbentuk kaki domba, dan sebagainya.
4). Dilihat  dari  susunan  roda  gilasnya ; ada  yang  dengan  roda  tiga(Three Wheel), roda dua (Tandem Roller), dan Three Axle TandemRoller. Alat pemadat yang menggunakan penggetar (vibrator).
f. Alat Pemroses Material
Alat   ini  dipakai   untuk   mengubah batuan dan mineral alam menjadi suatu  bentuk  dan  ukuran yang diinginkan. Hasil dari alat ini misalnya adalah batuan  bergradasi,  semen,  beton,  dan  aspal. Yang termasuk didalam alat ini adalah  crusher  dan  concrete  mixer   truck.   Alat   yang   dapat   mencampur material-material di atas juga dikategorikan ke dalam  alat  pemroses  material seperti concretebatch plant dan asphalt mixing plant.
g. Alat Penempatan Akhir Material
Alat    digolongkan   pada   kategori  ini  karena  fungsinya yaitu untuk menempatkan   material   pada   tempat   yang  telah ditentukan. Ditempat atau lokasi   ini  material  disebarkan  secara  merata  dan dipadatkan sesuai dengan spesifikasi yang  telah ditentukan. Yang termasuk di dalam kategori ini adalah concrete spreader, asphalt paver, motor grader, dan alat pemadat.
Klasifikasi operasional Alat Berat
Alat-alat   berat dalam  pengoperasiannya  dapat  dipindahkan dari satu tempat  ke  tempat  lain  atau tidak  dapat digerakan atau statis. Jadi klasifikasi alat berdasarkan pergerakannya dapat dibagi atas berikut ini :
Alat dengan Penggerak
Alat   penggerak   merupakan   bagian   dari   alat   berat   yang menerjemahkan   hasil   dari   mesin  menjadi  kerja. Bentuk dari alat penggerak   adalah    crawler   atau   roda    kelabang   dan  ban karet. Sedangkan belt merupakan alat penggerak pada conveyor belt.
Alat Statis
Yang   termasuk   dalam   kategori    ini   adalah    towercrane, batching    plant,  baik untuk beton maupun untuk aspal serta crusher plant.  Crane   (alat pengangkat)    jenisnya   ada   bermacam-macam :   Crane gelegar,   crane  kolom   putar,  crane  putar,  crane portal, crane menara, crane kabel,   dan   mobil   crane.   Beberapa   jenis   Crane banyak digunakan dalam proyek-proyek   bangunan   sipil   yang    berkaitan  dengan pemindahan tanah adalah mobile crane, sebab craneini dapat dengan mudah dipindah-pindahkan, karena pekerjaan pemindahan tanah secara mekanis  membutuhkan mobilitas alat yang relatif tinggi
Fungsi alat berat
Dirancang   untuk    melakukan  berbagai   aplikasi   kehutanan dengan konfigurasi  Log Loader, Harvester /Processor, dan Road Builder.Backhoe Loader   merupakan gabungan dari dua alat berat yang berbeda fungsinya.Bagian depan   dilengkapi  dengan bucket dan berfungsi sebagaimana loader dan bagian belakang dilengkapi dengan perlengkapan yang sama dengan yang digunakan pada excavator.
 Alat   penggali   sering   juga disebut Excavator; ada dua tipe Excavator yaitu:
Excavator yang berjalan  menggunakan  roda kelabang / track shoe (Crawler Excavator) dan,
 Excavator yang menggunakan ban (Wheel Excavator). Excavator digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan.
Sifat Kembang Susut Tanah
Volume dan kerapatan tanah secara umum mengalami perubahan yang cukup besar apabila tanah itu digali, diangkut, diletakkan dan dipadatkan. Karena adanya perubahan volume pada kondisi tersebut, maka perlu diketahui dan ditetapkan adanya volume di tempat aslinya, dalam keadaan lepas dan setelah dipadatkan.
Yang dimaksud kembang susut tanah adalah perubahan baik berupa penambahan atau pengurangan volume tanah setelah diolah atau diubah dari bentuk asalnya. Volume pekerjaan tanah umumnya diukur dalam tiga kondisi seperti terlihat pada gambar berikut:
a. Kondisi asli (Bank Cubic Meter/BCM), u`kuran alam yaitu keadaan tanah yang masih sesuai dengan kondisi asli alamnya. Dalam keadaan ini butiran-butiran tanah masih terkonsolidasi dengan baik.
b.Kondisi lepas (Loose Cubic Meter/LCM), yaitu kondisi tanah sesudah mengalami gangguan atau telah digali, misalnya keadaan tanah di depan Doser Blade, di atas Dump Truck dan dalam Bucket. Tanah yang telah tergali dari tempat asalnya ini akan mengalami perubahan volume, yaitu mengalami pengembangan. Hal ini diakibatkan oleh adanya perubahan rongga udara butir-butir tanah, sehingga volumenya menjadi besar. Besarnya penambahan volume tergantung dari factor kembang tanah (swelling factor) yang besarnya dipengaruhi oleh jenis tanah.
c.Kondisi padat (solid measure / SM) yaitu keadaan tanah setelah ditimbun kembali dan diadakan pemadatan. Pada keadaan ini tanah mengalami proses pemadatan sehingga volumenya menyusut tanpa mengalami perubahan berat. Perubahan volume pada keadaan ini terjadi karena adanya penyusutan rongga udara di antara partikel-partikel tanah tersebut. Besarnya volume dalam keadaan padat ini tergantung dari jenis tanah, kadar air tanag dan usaha pemadatan.
Kapasitas Produksi masing – masing Alat
Kapasitas Produksi Excavator
Prosedur kerja / Panduan Excavator
Posisi excavator dalam keadaan datar.
Mengendalikan attachment dengan benar, misalnya untuk gerakan menggali, mengangkat, dan sebagainya.
Untuk membalik arah dapat memutar revolving unit.
Rumus umum perhitungan kapasitas produksi Excavator adalah sebagai berikut :
Q  =
Faktor Koreksi (FK) :
Dimana :
V = Kapasitas bucket
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
Fd = Faktor koreksi akibat kedalaman (Lampiran 7 Hal.181)
Ft = Faktor Koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
FB = Faktor bucket (Lampiran 7 Hal.182 dan Tabel 2.1)
Fa =  Faktor efisiensi alat (Lampiran 7 Hal.180)
Ts1 = t1 + t2 = waktu menggali atau memuat + lain-lain
Fk = Faktor pengembangan bahan (Kondisi Lepas)
Tabel 2.1 Faktor bucket (bucket fill factor) (FB)
Kondisi Material Excavator  
Tanah Liat 1,0 – 1,10  
Pasir dan Batu Pecah 0,95 – 1,00  
Tanah Cadas dan Keras 0,80 – 0,90  
Batuan Hasil Ledakan 0,60 – 0,75  
Batuan Hasil Ledakan Besar 0,40 -0,50
Sumber : Pedoman Pokok Pelaksanaan Pekerjaan dengan Menggunakan Peralatan ( P5 ). Edisi I Direktorat Jenderal Pengairan. Hal. 81.
Kapasitas Produksi Loader
Prosedur kerja / Panduan Wheel loader
Menurunkan bucket diatas permukaan tanah, mendorong ke depan (memuat/menggusur), mengangkat bucket, membawa dan membuang muatan.
Apabila material harus dimuatkan ke alat angkutan, misalnya truk. Cara pemuatannya dengan lintasan V atau L.
Rumus perhitungan kapasitas produksi Loader adalah sebagai berikut :
Q = (V x 60 x FK)/ (Ts1 x Fk)
Faktor Koreksi (FK) :
Dimana :
V = Kapasitas bucket
FB = Faktor bucket (Tabel 2.2)
Ft = Faktor koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
Fa = Faktor efisiensi alat (Lampiran 7 Hal.180)
Ts1 = t1 + t2 = waktu menggali atau memuat + lain-lain
Fk = Faktor pengembangan bahan (Kondisi Lepas)
Tabel 2.2 Faktor bucket (bucket fill factor) (FB)
Kondisi Penumpahan Wheel Loader  
Mudah 0,8 – 1,0  
Sedang 0,6 – 0,8  
Agak Sukar 0,5 – 0,6  
Sukar 0,4 – 0,5
Sumber: Pedoman Pokok Pelaksanaan Pekerjaan dengan MenggunakanPeralatan(P5 ). Edisi I Direktorat Jenderal Pengairan. Hal. 81.
Tabel 2.3 Waktu siklus standar
Kapasitas Bucket
Kondisi Kerja s/d 3 m3 3,1 m3 s/d 5 m3 ≥ 5,1 m3  
Mudah 0,40 0,50 0,60  
Sedang 0,50 0,60 0,65  
Agak Sukar 0,65 0,65 0,70  
Sukar 0,70 0,75 0,75
Sumber  : Pedoman Pokok Pelaksanaan Pekerjaan dengan Menggunakan  Peralatan (P5 ). Edisi I Direktorat Jenderal Pengairan. Hal. 81.
Kapasitas Produksi Dump Truck
Prosedur Kerja / Panduan Dump truck
Posisi truck harus stabil dan rata ketika proses pemuatan material.
Saat penumpahan muatan (dumping) dilakukan secara hidrolis yang menyebabkan bak terangkat pada satu sisi, sedang sisi lain yang berhadapan berputar sebagai engsel.
Kapasitas produksi Dump Truck dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Q =
Faktor Koreksi (FK) :
Dimana :
V = Kapasitas bak
Fk = Faktor pengembangan bahan (Kondisi Lepas)
Ft = Faktor koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
Ts2 = waktu siklus (waktu tempuh isi + kosong + lain-lain)
Fa = Faktor efisiensi alat (Tabel 2.4)
Tabel 2.4Efisiensi Kerja Dump Truck (Fa)
Kondisi Kerja  Efisiensi Kerja   
Baik  0,83   
Sedang  0,80   
Kurang Baik  0,75   
Buruk 0,70  
Sumber: Seminar Application of Heavy Equipment for IrigationProjects PT. United Tractors. Hal 110.
Tabel 2.5Kecepatan rata-rata maksimum Dump Truck
 Kecepatan Maksimum   
Datar  Bermuatan  40 km/jam   
 Kosong 60 km/jam   
Naik  Bermuatan  20 km/jam   
 Kosong 40 km/jam   
Menurun  Bermuatan  20 km/jam   
 Kosong 40 km/jam  
Sumber :  Pedoman Pokok Pelaksanaan Pekerjaan dengan Menggunakan Peralatan ( P5 ). Edisi I Direktorat Jenderal Pengairan. Hal. 80
Kapasitas Produksi Vibrator Roller
Prosedur Kerja / Panduan Vibrator roller
Pada pekerjan tanah setelah tanah dihamparkan dapat dilakukan pemadatan.
Roller pada alat menggilas tanah serta vibrator pada alat yang membantu menyusutkan tanah.
Diperluakan lintasan yang sesuai untuk mengefektifkan pemadatan, dengan cara maju dan memundurkan alat.
Kapasitas produksi Vibrator Roller dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Q = (V x 1000)x(N(b-bo)+bo) x t x FK / n
Faktor Koreksi (FK) :
Dimana :
V = Kecepatan operasi alat
Ft = Faktor koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
b = Lebar efektif pemadatan
n = Jumlah lintasan
t = Tebal pemadatan
Fk = Faktor pengembangan bahan (Kondisi Lepas)
Fa = Faktor efisiensi alat (Lampiran 7 Hal.180)
Kapasitas Produksi AMP ( Aspal Mixing Plant )
Kapasitas produksi AMP (Aspal Mixing Plant) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Q = (v x FK) / d1 x t
Faktor Koreksi (FK) :
Dimana :
V = Kapasitas alat
D1 = Berat Jenis Aspal
Fa  = Faktor efisiensi kerja (Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
Kapasitas Produksi Asphalt Finisher
Kapasitas produksi Asphalt Finisher dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Q = (v x b x FKx 60)
Faktor Koreksi (FK) :
Dimana :
V = Kapasitas alat
b = lebar hamparan
Fa  = Faktor efisiensi kerja (Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
Kapasitas Produksi Asphalt Sprayer(Hand Sprayer)
Kapasitas produksi Asphalt Finisher Asphalt Sprayer(Hand Sprayer)
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Q = (pas x FK x 60)
Faktor Koreksi (FK) :
Dimana :
V = Kapasitas alat
Pas = kapasitas pompa aspal
Fa  = Faktor efisiensi kerja (Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor koreksi efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Ha.181)
Kapasitas Produksi Air Compressor
Rumus air compressor berikut adalah sebagai pembersih area proyek (permukaan jalan) yang akan dilabur aspal.
Kapasitas produksi (luas permukaan) / jam = Q
Q = V x Ap
Dimana :
V = Kapasitas alat
Ap = Aplikasi lapisan (liter)
Kapasitas Produksi Motor Grader
Kapasitas produksi Motor Grader dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Q = (Lh x (N(b-bo)+bo) x t x FK x 60 /Ts3 x n
Faktor Koreksi (FK) :
Dimana :
Lh = panjang hamparan
b = lebar efektif blade
t = tebal lapis aggregate
Fa= faktor efisiensi alat (Tabel 2.6)
Ft = Faktor koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
n = jumlah lintasan
Ts3= waktu siklus
Tabel 2.6Lebar (panjang) pisau efektif, lebar overlap
Panjang
Pisau (m) Panjang / Lebar / Pisau Efektif (m)  
  Sudut Pisau 60˚ Sudut Pisau 45˚  
2,2 1,9 1,6  
2,5 2,2 1,8  
2,8 2,4 2,0  
3,05 2,6 2,2  
3,1 2,7 2,2  
3,4 2,9 2,4  
3,7 3,2 2,6  
4,0 3,5 2,8  
4,3 3,7 3,0
Sumber  :  Pedoman Praktis Penggunaan Peralatan Mekanis PT. Hutama Karya 1982.
Tabel 2.7Faktor efisiensi kerja (Fa)
Kondisi Kerja Efisiensi Kerja  
Road repair, leveling 0,8  
Snow removal (V-type plow) 0,7  
Spreading, grading 0,6  
Treaching, snow-removal 0,5
Sumber  :  P4edoman Praktis Penggunaan Peralatan MekanisPT.HutamaKarya1982.
Kapasitas Produksi Tandem Roller
Kapasitas produksi Tandem Roller dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Q = (Vx 1000) x (N(b-bo) + bo) x t x FK / n
Faktor Koreksi (FK) :
Dimana :
b=Lebar efektif pemadatan
V = Kecepatan alat
Fa = Faktor efisiensi kerja (Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor koreksi akibat efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
t = Tebal pemadatan
bo = lebar overlap
n = Jumlah lintasan
Kapasitas Produksi Pneumatic Tire Roller
Kapasitas produksi Pneumatic Tire Roller dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Q =
Faktor Koreksi (FK) :
Dimana :
b=Lebar efektif pemadatan
V = Kecepatan alat
Fa = Faktor efisiensi kerja (Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor koreksi efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
t = Tebal pemadatan
n = Jumlah lintasan
Kapasitas Produksi Water Tank Truck
Kapasitas produksi Water Tank Truck dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Q  = (pa x FK x 60)/Wc x 1000
Faktor Koreksi (FK) :
Dimana :
V = Kapasitas tangki air
Wc = Kebutuhan air/ m3
Pa = kapasitas pompa air
Fa = Faktor efisiensi kerja (Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor efisensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
n = Pengisian tangki / jam
Kapasitas Produksi Truck Mixer
Kapasitas produksi Truck Mixer dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Kapasitas Produksi (Q) =
Faktor Koreksi (FK) :
Dimana :
V = Kapasitas alat
Fa = Faktor efisiensi kerja ( Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
Ts = Waktu siklus
Kapasitas Produksi Batchin Plant
Kapasitas produksi Batchin Plant dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
Q =
Faktor Koreksi (FK) :
Dimana :
V = Kapasitas alat / jam
Fa = Faktor efisiensi kerja (Lampiran 7 Hal.180)
Ft = Faktor efisiensi waktu (Lampiran 7 Hal.180)
Fo = Faktor koreksi akibat kecakapan operator (Lampiran 7 Hal.181)
Ts = waktu siklus
2.2 pengenalan tentang jalan
Desain Perkerasan Jalan
 Lapisan perkerasan jalan berfungsi untuk menerima dan menyebarkan beban lalu lintas tanpa menimbulkan kerusakan yang berarti pada jalan itu sendiri. Sehinnga menimbulkan kenyamanan kepada pengemudi selama perjalanaan tersebut.  Dengan demikian perencanaan tebal lapisan harus dipertimbangkan secara optimal.
 Menurut Departemen Pekerjaan umum (1987), yang dimaksud dengan perkerasan lentur (flexible pavement) adalah perkerasan pasa umumnya menggunakan bahan campuran beraspal sebagai lapisan permukaan serta sebagai bahan butiran sebagai lapisan dibawahnya. Bagian perkerasan bagian jalan lentur umumnya terdiri dari :
1. lapisan permukaan (surface course )
2. lapisan pondasi atas ( base course )
3. lapisan pondasi bawah ( sub base course )
4. Tanah dasar
Penjelasan :
Lapisan Permukaan
Lapisan permukaan adalah lapisan perkerasan yang paling atas. Fungsinya antara lain :
Sebagai lapisan penahan beban roda selama pelayanan. Karena memiliki stabilitas yang tinggi.
Sebagai lapisan yang kedap air mencegah agar air tidak meresap dilapisan bawahnya.
Sebagai lapisan aus menahan gesekan roda kendaraan.
Untuk menyebarkan bebean di lapisan bawahnya yang memiliki daya dukung lebih rendah.
  Pemilihan bahan lapisan permukaan perlu mempertimbangkan kegunaan, umur, perencaan, pentahapan konstruksi, agar dicapai maanfaat yang maksimal dari biaya yang dikeluarkan.
2. Lapisan Pondasi Atas
 Lapisan pondasi atas merupakan bagian perkerasan yang terletak antara lapisan permukaan dan lapisan pondasi bawah, fungsi pondasi lapisan atas adalah :
Menahan beban roda dan menyebarkan kelapisan bawahnya.
Sebagai perletakan dari lapisan permukaan.
3. Lapisan Pondasi Bawah
 Lapisan pondasi bawah terletak diantara lapisan pondasi atas dan lapisan tanah dasar. Fungsi lapisan ini antara lain:
Mendukung konnstruksi perkerasan.
Mengefisiensikan penggunaan matrial perkerasan.
Sebagai lapisan awal agar perencanaan konstruksi berjalan dengan lancar.
4. Tanah Dasar
 Tanah dasar adalah permukaan tanah semula atau permukaan tanah galian atau permukaan tanah timbunan yang dipadatkan dan merupakan dasar untuk perletakan perkerasan lainnya. Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan tergantung dari sifat-sifat dan daya dukung tanah dasar.
Pada penelitian ini digunakan program Flexi-Man. Program tersebut adalah program yang dipakai untuk penentuan tebal perkerasan lentur untuk jalan baru, pelapisan tambahan dan konstruksi bertahap. Dari program Flexi-Man akan didapat perhitungan susunan tebal tiap lapisan perkerasan. Untuk menjalankan program Flexi-Men ini diperlukan beberapa data. Data yang harus dimasukkan antara lain :
Data kendaraan
Data jalan dan data lalu lintas
Data penunjang
Data perkerasan
Penjelasan :
I. Data Kendaraan
 Pada data kendaraan yang harus dimasukkan adalah tahun survey dan jenis kendaraan. Untuk jenis kendaraan diperlukan klasifikasi dan jumlahnya. Kelompok sumbu, tipe sumbu, beban total dan pembagian beban tiap kendaraan sudah tersedia. Jenis kendaraan yang tersedia meliputi kendaraan ringan, bus, truk, trailer, dll
II. Data Jalan dan Data Lalu Lintas
 Pada data jalan yang harus dimasukkan adalah klasifikasi jalan, jalur jalan, jumlah arah, tahun jalan dibuka, dan umur rencana. Untuk lebar perkerasan akan diperoleh pada saat akan memsukkan jumlah jalur.
II. Data Penunjang
 Pada data penunjang yang diperlukan adalah faktor regional (FR), nilai indek  permukaan akhir umum rencana (IPt) dan nilai CBR. untuk factor regional dapat di masukkan dengan keadaan di lapangan atau FR yang dikehendaki. Untuk menentukan keadaan FR dilapangan perlu mengetahui kelandaiaan dan iklimnya. Pada jalan-jalan tertentu seperti persimpangan, pemberhentian, atau tikungan tajam (jari-jari <30 meter) nilai fr ditambah 0,5. Sedagan pada daerah rawa-rawa nilai FR ditambah 1,0. Untuk indeks permukaan akhir umum (IPt). Diperlukan IPt yang dianjurkan dan IPt yang dikehendaki. Setelah itu harus dimasukkan data CBR tanah dasar. Pada program ini hasil CBR ini bias didapatkan melalui perhitungan.
IV. Data Perkerasan
 Pada data perkerasan, tebal dari tiap lapisan harus dihitung. Data yang perlu dimasukkan meliputin data perkerasan lapis permukaan (surface), data lapis pondasi (Base) data lapis pondasi bawah (Subbase) begitu juga pada saat memasukkan data marsall stability, dapat diperoleh koefisien kekuatan relatif. Untuk tebal minimum lapisan tersebut harus didesain sendiri berapa ketebalan yang kita inginkan. Jenis-jenis bahan yang tersedia adalah laston, lasbutag, HRA, dan laspen.Untuk lapisan pondasi data yang perlu dimasukkan melipiti jenis bahan, kekuatan bahan, koefisien kekuatan relative dan tebal minimum lapisan, untuk kekeuatan baha dapat berubah tergantung dari jenis bahan (laston atas, lapen, stab, tanah, batu pecah)
Gambar proses perkerasan jalan
Tentunya kita tidak asing dengan yang namanya jalan raya, hampir setiap hari di lalui oleh kita, lalu bagaimana supaya jalan raya tersebut tidak rusak ketika dilalui kendaraan yang beratnya bersatuan ton. untuk membuat jalan yang kuat maka harus dilakukan kegiatan menghitung tebal perkerasan jalan raya sehingga dapat direncanakan konstruksi yang kokoh, berikut ini gambaran tentang perhitunganya:
Rumus fisika yang bersangkutan dengan jalan raya adalah rumus Gaya gesek :
Rumus gaya gesek   :      f = u.N
f = gaya gesek
u = koefisien gerakan
N = gaya normal
1.7 Data Jalan Raya
Misalnya kita akan merencanakan tebal perkerasan jalan raya 2 jalur dengan data lapangan sebagai berikut :
Umur rencana jalan, Ur = 10 tahun
Jalan akan dibuka pada tahun 2014
Pembatasan beban as= 8 ton
Setelah dilakukan pengamatan diperoleh volume lalu lintas sebagai berikut:
Mobil penumpang, pick up, mobil hantarn dan sejenisnya sebanyak 1219 perhari
Bus yang melintas di jalan raya sebanyak 353 per hari
Truck 2 as : 481 / hari
Truck 3 as : 45 / hari
Truck 4 as : 10 / hari
Truck 5 as : 4 / hari
LHR th.2010 :  2112 bh kendaraan perhari untuk 2 jurusan
Waktu pelaksanaan, n= 4 tahun
Perkembangan lalu lintas jalan raya, i= 8 % per tahun
Faktor regional, FR = 1.00
Bahan perkerasan jalan raya yang akan dipakai sebagai berikut:
Aspal beton atau penetrasi makadam ( surface course )
Water bound macadam ( base course )
Pondasi bawah kelas C ( Subbase course )
CBR =
1.8 Perhitungan Konstruksi Jalan Asphalt
Selanjutnya menghitung tebal perkerasan jalan raya dari data-data diatas
Bus  = 353
Truck 2 as  = 481
Truck 3 as  = 45
Truck 4 as  = 10
Truck 5 as  = 4
Jumlah kendaraan berat ( bus dan truck ) KB = 893 bh
BB = (353/893)x100%=39.5%
B2T =(481/893)x100%=53.86%
B3T = (45/893)x100%=5.05%
B4T = (10/893)x100%=1.14%
B5T = (4/893)x100%=0.45%
Mobil penumpang = 1219 bh
Jumlah LHR = 2112 bh
AKB =( 893/2112)x100%=42%
AKR =( 1219/2112)x100%=58%
Waktu pelaksanaan pekerjaan jalan raya , n= 4 tahun
Pertumbuhan lalu lintas i = 8% pertahun
LHRop = 2112( 1+0.08)^4 = 2873
Jumlah jalur = 2 Ckiri= 50% , Ckanan= 50%
Umur rencana = 10 tahun pertumbuhan lalu lintas jalan raya = 8%/tahun
FP = 1.44 ( tabel FP )
i.p = 2.5 ( tabel I.P )
LERur = 639.71
I.P = 2.5 dari grafik diperoleh ITP = 10.25
CBR = 3 DDT = 3.8
ITP = a1.D1 + a2.D2 + a3.D3 + a4.D4
Dsini mencari Nilai ITP yang lebih dari 10.25
Lapisan permukaan=a1=0.40 & D1=10, a1xD1=4.00
Lapisan pondasi =a2=0.14 &D2=20, a2xD2=2.80
Lapisan pondasi bawah =a3=0.11 &D3=32, a3xD3=3.52
Lapisan perbaikan tanah dasar =a4=0 &D4=0, a4xD4=0
 Jumlah ITP hasil perhitungan = 10.32 (jadi  jalan raya aman )
1.9 Klasifikasi Jalan Raya Menurut Ramainya Lalu-Lintas  
Suatu jalan raya yang mempunyai banyak jalur lalu-lintas itu tergantung pada kecepatan kendaraan-kendaraan masih harus dibagi lagi dalam beberapa jalur lalu-lintas, yaitu jalur-jalur lalu-lintas lambat dan jalur-jalur lalu-lintas cepat.
Jalur-jalur lalu-lintas cepat itu dibagi lagi menurut kecepatan kendaraan- kendaraan yang melaluinya dalam beberapa golongan yaitu:
1. Jalur lalu-lintas untuk. 40 km/jam.
2. Jalur lalu-lintas untuk 50 km/jam.
3. Jalur lalu-lintas untuk 60 krn/jam ke atas.
  Oleh karena itu, pada perencanaan pembuatan suatu jalan harus dapat menjangkau perkembangan lalu-lintas untuk sesuatu waktu yang tertentu dikemudian hari tanpa ada perbaikan yang berarti, misalnya dapat mencapai umur rencana 15-20 tahun yang mendatang.
  Umur rencana jalan adalah jangka waktu sejak jalan itu dibuka hingga saat diperlukan perbaikan berat atau telah dianggap perlu untuk memberi lapisan pengerasan baru. Ramainya lalu-lintas kendaraan yang melewati sesuatu jalan itu dapat diteliti dengan menghitung jumlah (volume) kendaraan yang lewat sesuai dengan masing-masing jenis kendaraan.
   Pekerjaan penelitian ini dilakukan tiap-tiap hari selama 24 jam terus-menerus selama jangka waktu yang tertentu misalnya sdanra 2 minggu berturut-turut. Angka-angka yang menunjukkan hasil penelitian (pencatatan) jumlah kendaraan yang lewat itu disebut "Lalu-lintas Harian Rata-rata" disingkat L.H.R..
  Karena beraneka ragam jenis-jenisnya kendaraan maka diadakan suatu angka perbandingan antara jenis-jenis kendaraan itu. Untuk mobil penumpang/sepeda-motor disebut "Satuan Mobil Penumpang" disingkat S.M.P. yang besar angka perbandingannya ditetapkan sama dengan satu. Besar angka-angka perbandingan untuk kendaraan jenis lainnya dapat dibaca pada Tabel 2.1.
  Bila suatu jalan terdapat berbagai jenis kcndaraan dengan jurnlah yang berbeda, maka dengan angka perbandingan pada Tabel 2.1 dibuat daftar yang akan menghasilkan angka "S.M.P."-nya.
 Setelah didapat angka "S.M.P."-nya kita menentukan kelas jalan dengan membaca Tabel 2.2. Sebagai contoh perhatikan daflar yang menghasilkan jumlah "S.M.P." suatu jalan sebesar 10.500 S.M.P. yang dapat
Geometrik
    Komposisi dan arus pemisah arah
    Pengaturan lalu lintas
    Aktivitas samping jalan / hambatan samping
1. Geometrik
Karakteristik geometrik untuk jalan berbagai tipe akan mempunyai kinerja    berbeda pada pembebanan lalu lintas tertentu misalnya jalan terbagi dan jalan tidak terbagi, sedangkan untuk lebar jalur lalu lintas, kecepatan arus bebas dan kapasitas meningkat dengan pertambahan lebar jalur lalu lintas.
  Karakteristik geometrik tipe jalan yang digunakan untuk masing-masing tipe jalan menggunakan analisa operasional, perencanaan dan perancangan jalan perkotaan. Untuk setiap tipe jalan ditentukan prosedur perhitungan yang dapat digunakan pada kondisi :
 
   - Alinyemen datar atau hampir datar
   - Alinyemen horizontal lurus atau hampir lurus
Pada sigmen jalan yang tidak dipengaruhi antrian akibat hambatan samping atau arus iringan kendaraan yang tinggi dari samping.
2. Tipe Jalan
Tipe jalan akan mempunyai kinerja berbeda pada pembebanan lalu lintas tertentu, misalnya jalan terbagi dan tak terbagi, jalan satu arah.
3. Lebar Jalur Lalu Lintas
Kecepatan arus bebas dan kapasitas meningkat dengan pertambahan lebar jalur lalu lintas.
4. Kereb
  Kereb sebagai batas antara jalur lalu lintas dan trotoar berpengaruh terhadap dampak hambatan samping pada kapasitas dan kecepatan kapasitas jalan dengan kereb lebih kecil dari jalan dengan bahu.Selanjutnya kapasitas berkurang jika terdapat penghalang tetap dekat tepi jalur lalu lintas, tergantung apakah jalan mempunyai kereb atau bahu.
Komposisi Arus dan Pemisah Arah
-    Pemisah arah lalu lintas
  Kapasitas jalan dua arah paling tinggi pada pemisah arah 50-50, yaitu bilamana arus pada kedua arah adalah sama pada peride waktu dianalisa.
-    Komposisi lalu lintas
Komposisi lalu lintas mempengaruhi hubungan kecepatan arus, jika arus dan kapasitas dinyatakan dalam kendaraan per jam yaitu tergantung pada rasio sepeda motor per kendaraan berat dalam arus lalu lintas. Jika arus dan kapasitas dinyatakan dalam satuan mobil penumpang (smp/jam) tidak dipengaruhi oleh komposisi lalu lintas.
Pengaturan lalu lintas
Melalui diterapkannya pemberlakuan batas kecepatan didaerah perkotaan di Indonesia yaitu dengan pembatasan akses dari lahan samping jalan dan sebagainya
Perilaku pengemudi dan populasi kendaraan.
Keaneka ragaman perilaku dari pengemudi dan pengguna jalan yang ada di Indonesia khususnya didaerah perkotaan  dimasukan dalam prosedur perhitungan secara tidak langsung melalui ukuran kita.
Median Jalan
Median jalan merupakan salah satu fasilitas penunjang jalan yang turut berpengaruh terhadap karakteristik arus lalu lintas. Penempatan median ini biasanya berfungsi untuk memisahkan arus lalu lintas yang berlawanan arah. Fungsi median jika digunakan sebagai pemisah arah lalu lintas antara lain;
Untuk menyediakan jarak yang diperlukan untuk membatasi atau mengurangi terhadap lampu besar pada kendaraan  yang berlawanan arah terutama saat malam hari
Untuk menyediakan daerah netral yang cukup lebar, dimana pengemudi dapat mengontrol kendaraan pada saat darurat
Untuk menambah kelegaan, kenyamanan dan keindahan bagi pengguna jalan
Untuk menydiakan ruang yang diperlukan untuk kanalisasi pertemuan-pertemuan pada jalan
     Dengan lebar jalan yang cukup, median jalan memberikan pengamanan bagi pengguna jalan pada saat belok atau balik arah
Sebagai sarana pengamanan bagi pejalan kaki untuk menyeberang jalan.
2.3 Pengenalan Drainase Jalan
PENGERTIAN.
Drainase merupakan pekerjaan pembuatan saluran pembuangan. Baik air buangan hujan, air permukaan maupun air buangan dari kamar mandi, dapur dan WC. Secara umum drainase didefisinikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu konteks pemanfaatan tertentu.
 Sedangkan drainase perkotan adalah ilmu drainase yang mengkhususkan pengkajian pada kawasan perkotaan yang erat kaitannya dengan kondisi lingkungan fisik dan lingkungan sosial yang ada dikawasan kota tersebut.
 Dengan demikian kriteria desain drainase perkotaan memiliki kekhususan, sebab untuk perkotaan ada atambahan desain seperti keterkaitan dengan tata guna lahan, keterkiatan dengan master plan drainase kota, keterkaitan dengan masalah social ( kurangnya kesadaran masyarakat dalam ikut memelihara fungsi drainase kota ) dan lain-lain.
PENGGUNAAN DRAINASE
 Pemakaian atau pemasangan pekerjaan drainase digunakan pada berbagai bangunan yang berhubungan dengan pengerjaan pengeringan atou pembuangan zat cair ( Air ) yang dapat mengurangi umur pakai maupun merusak bangunan tersebut.
Bangunan-bangunan tersebut adalah :
Rumah tinggal.
Pekerjaan penyaluran/ pembuangan air hujan dan limbah domestic ( buangan dari kamar mandi/ WC, dapur, air cucian dll ).
Perkantoran
Asrama.
Hotel.
Kampus / Sekolahan.
Rumah Sakit.
Pabrik-Pabrik / Industrial Estate
Stadion / Kompleks Olahraga
Kompleks Perumahan / Real Estate.
Padang / Lembah Golf.
Jalan Raya.
Lapangan Terbang / Bandara.
Pelabuhan Laut.
Bendungan / Waduk.
Bhumi perkemahan.
Tempat – tempat rekreasi.
Tempat Penngolahan/Pembuangan Sampah Akhir (TPA),  dll.
Fungsi Dan Tujuan Pekerjaan Drainase
Untuk Pengeringan
Adakalanya di sekitar suatu kompleks perumahan penduduk terdapat rawa-rawa atou suatu lapangan yang digenangi air. Keadaan lingkungan yang seperti ini dapat mendatangkan wabah penyakit bagi penduduk yang tinggal di sekitar area tersebut. Oleh karena genangan air atau rawa tersebut telah menjadi sarang berbagai penyakit seperti Malaria, Cholera, Demam berdarah dan lain-lainnya. Untuk menghindari hal itu diperlukan suatu sistem drainase yang baik agar tidak terjadi genangan air agar lingkungan di situ sehat, aman, dan sejahtera.
Untuk Pencegahan Banjir
 Ada daerah-daerah tertentu yang hujannya turun sering  seperti pada saat musim sekarang curah hujan hampir di daerah-daerah di wilayah Indonesia curah hujan sangat tinggi jadi hampir tiap harti terjadi hujan, kalau saluran drainase tidak dibuat dengan baik maka banjir akan terjadi di mana-mana. Maka saluran drainase harus difungsikan sebagai mana mestinya.
Untuk Pembuangan Air Kotor
 Air buangan dari industri adalah penyebab pencemaran lingkungan , kerena air buangan ini mengandung berbagai macam bahan kimia, sampah-sampah pabrik, dll. Banyak ikan dan hewan ternak penduduk mati disebabkan air lingkungan mereka tercemari oleh air buangan dari industri atau di sebut dengan air limbah pabrik. Untuk mencegah agar lingkungan tempat tinggal penduduk tidak tercemari, maka buangan dari industri harus dialirkan secara khusus dengan melalui pengolahan limbah yang sesuai dengan semestinya agar pada saat dialirkan ke pembuangan air, tidak berbahaya karena sudah steril.
Penyuplaian Air Untuk Penduduk
       Dalam suatu kota pada umumnya, air yang dibutuhkan penduduk didatangkan dari suatu kabupaten pada umumnya, air yang dibutuhkan penduduk tersebut akan dialirkan kerumah-rumah penduduk melalui pipa-pipa yang diinstalasi sedemikian rupa agar air tersalurkan dengan lancar dan baik ke konsumen.
Jenis Saluran
       Saluran drainase pada umumnya ada yang terbuka dan ada juga yang terbuka. Tetapi layaknya pada saluran terbuka untuk mengalirkan air buangan yang relative tidak berbau , seperti air hujan  maupun air permukaan ( rembesan system irigasi, mata air, dll ).
 Sedangkan Saluran tertutup digunakan untuk mengalirkan air buangan dari kamar mandi, WC, dapur, cucian maupun buangan hasil proses industry.
JENIS DRAINASE
 Saluran drainasi pada umumnya terbuka atau tertutup. Tetapi selayaknya pada saluran terbuka hanya untuk mengalirkan air buangan yang relatif tidak berbau, seperti air hujan maupun air permukaan (rembesan sistem irigasi, mata air, dll).
Sedangkan saluran tertutup digunakan untuk mengalirkan air buangan dari kamar mandi, WC, dapur, cucian maupun buangan hasil proses industri.
PENAMPANG SALURAN
  Ada berbagai macam penampang saluran yang digunakan , tetapi pada saluran terbuka banyak digunakan saluran berpenampang segi empat maupun trapezium. Untuk penampang saluran tertutup, banyak digunakan pipa saluran berpenampang bulat.
  Penampang Saluran Terbuka
 a. Saluran Segi Empat
Saluran Segi Empat Dengan Saluran Kecil (Cunnette)
Saluran Trapesium
d.  Saluran Trapesium Dengan Saluran Kecil (Cunnette)
e.  Saluran Bentuk Lainnya
f.  Penampang Saluran TertutupPT. Sinartech Multi Engineering
Jl. KL, Yos Sudarso
KM 10.5 No. 50 Kota Bangun
Medan Sumatera Utara Indonesia
(061) 42068877 / 42068231
HP / WA : 0853-2020-2069
Fax : (061) 42068877 / 4206823
OFFICE : 0853-2020-2065
  Reply


Forum Jump:


Users browsing this thread: 1 Guest(s)